Bagi Pecinta Puisi atau pun yang Menyingkirkan Puisi

Ini bab pengetahuan umum yang sarat makna untuk semua orang pada umumnya. Ada beberapa orang yang mungkin, tak pernah menyukai karya sastra puisi. Menganggap sebagai kicauan sampah. Namun, ada beberapa orang yang sangat mencintai puisi karena mereka menganggap itu adalah karya luar biasa dan mereka mampu menciptakan. Bahkan, ada pula orang yang hanya sekedar mengagumi sastra puisi karena mencintai pesan-pesan moral yang ingin disampaikan si penyair.

Sejak zaman tradisional, puisi mempunyai tujuan untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Seharusnya, dipertahankan seperti itu. Tak jarang, penyair menghadirkan kebenaran melalui imajinasinya, metafor dan perumpamaan yang indah agar tampak menyenangkan padahal, ada sugesti yang tak sadar di dalamnya untuk mendorong kita melakukan hal-hal baik. Ada puisi kosong dan ada puisi riil. Yang jelas, keduanya ingin mengajak manusia pada ‘tindakan’. Kebanyakan penyair memang terkesan romantis tapi, tetaplah realis. Harapan saya seperti itu. Tak bisa sepenuhnya kita membenci puisi yang jelas-jelas mampu menyampaikan pesan pada semua bidang. Baik ideologi politik, sosial masyarakat sampai religi kontemporer.

Sejatinya sebuah karya sastra puisi, bukan semata-mata sebatas fiksi untuk memperindah situasi hidup ini agar tampak romantis secara sempurna. Romantis dan realisme adalah dua hal yang kita harus mampu berada di antaranya sebagai seorang penyair. Punyalah jiwa penulis yang tetap realis karena kita benar-benar membaur dalam eksistensi manusia. Bagaimana dengan romantis? Harus tetap ada! Romantis itu adalah gaya penyampaian untuk memacu obsesi diri kita. Jadi, hindari hanya di satu sisi saja.

Jangan hanya mampu menulis puisi secara romantis. Karena bagi saya, karya seperti ini hanya mampu menuliskan tentang perjuangan batin diri sendiri, menggambarkan penderitaan diri sendiri tanpa memperhatikan aspek luas di luar lingkungan diri sendiri. Saya berpikir seperti itu, seorang penyair yang egoistis.

Bagaimana dengan realis? Biasanya mereka berlaku bisu (jarang bicara) tentang kehidupannya meski menjadi orang pertama yang melakoni. Karena yang ada, bagaimana caranya dia mampu mendeskripsikan dengan jujur mengenai kehidupan para individu yang ingin dikemasnya dengan unik. Sehingga, karya sastranya benar-benar mampu memberikan peran bagi pembaca. Layaknya puisi, seharusnya dia bukan hanya sekedar ditulis asal-asalan. Namun, menurut saya, puisi itu mempunyai tugas (kewajiban) sebagai hasil dari presentasi kehidupan, gambaran manusia yang baik sampaikan sebagai kebaikan. Begitu pun yang buruk sebagai keburukan.

Puisi, tak perlu disingkirkan. Karena puisi salah satu untaian untuk menyampaikan pesan atau peringatan bagi manusia. Sekali lagi, dia mampu memasuki segala bidang. Puisi itu bagian dari Sastra. Dan sastra adalah tonggak dari Bahasa Ibu Pertiwi. Semua kembali lagi pada si penyair, bagaimana agar untaiannya tak membuat para pembacanya hanya sekedar membaca kemudian, meninggalkan lembaran kertas itu sebagai pembungkus jajanan tanpa menyimak dengan saksama. Perlu diingat dari sisi original bahwa, puisi itu dilahirkan untuk mengikat batin pembacanya. Lantas, seperti apa kualitas karya puisi kita? Mari lebih banyak belajar lagi. Karena pada umumnya, semua orang mampu untuk menulis. Tapi, mencari penyampaian karya unik itulah yang sampai sekarang masih jarang ada.

Sejatinya puisi yang kedua adalah dia karya mewah. Karena kekuatan puisi mampu menginspirasi manusia untuk mengambil sebuah keputusan mengenai tindakan moralitas apakah yang sepantasnya dilakukan. Memang, tak selamanya apa yang dituliskan oleh seorang penyair adalah benar sepenuhnya. Karena bercampur sebuah opini dan pencarian kebenaran itu sendiri secara berkala tanpa ada ujungnya. Puisi memang identik dengan luka, tangisan, darah, senyum, pedih. Tapi, tidak juga hanya opini semata yang harus kita ekspresikan dalam majas-majas.

Di akhir tentang sastra. Mari kembali kepada ‘Teologi Puisi’. Di mana makna dari realitas itu tertangkap secara fenomenal. Menjadi penyair yang beretika. Penyair yang intelektual karena inpsirasi kemanusiaan dan alam.

Secara personal. Saya, mungkin segelintir orang yang belum mampu mencintai puisi ‘secara keseluruhan’. Karena hanya puisi yang mampu menampar perasaan saya untuk merenung, yang membuat saya jatuh cinta. Namun, itu bukan berarti saya tidak mencintai sastra. Sastra itu pengetahuan umum yang setiap orang wajib mempelajari. Karena sastra, adalah salah satu seni untuk mengungkapkan realitas, menumpahkan segala inspirasi dan intelegensi seseorang.

 

Arie. P

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)