Beda Kapasitas dan Kepentingan

Ini hanya sekilas berbicara di bawah atap angkringan kopi. Saya bukan sepenuhnya penyuka seni namun, mungkin saya orang seni. Dalam artian, bolehlah bakat seni itu saya kelola atau saya abaikan saja, bukan? Intinya begitu. Lain dengan seseorang penyuka seni, belum tentu bakat dalam hal seni. Tapi, kebanyakan mereka seiring waktu ingin mendalami dan mahir seni ‘memang’ karena memacu diri untuk bisa memahami seni. Dari mana saya ketahui jika, mungkin saya orang seni? Darah yang mengalir tak akan pernah bisa membohongi. Nafsu yang terlalu mudah menjalani tanpa harus belajar pun layaknya sudah turunan. Tentunya semua tanpa disengaja. Yang sekali lagi, saya kembangkan atau pun tidak itu terserah saya.

Obrolan ini berlanjut dengan seorang kawan saya dari Jambi. Dengan logat kentalnya yang terbiasa membahas politik dan harus berpindah topik ke seni sebab beliau membahas, “Kenapa harga kain tenun saja bisa mengalahkan harga sepeda motor atau bisa menyetarai harga mobil second sekali pun?”

Tampaknya, para orang tua kolot harus berpikir 1700 kali jika, harus menghakimi seorang anak yang ingin mendalami bidang seni namun, di awal waktu malah dihujat, “Kau ini! Mau jadi apa kau masuk jurusan seni? Kau ini hanya akan jadi orang ‘ngere’ yang tak punya masa depan.” Sering saya mendengar para orang tua beredukasi tinggi pun masih menilai rendah dengan perihal ‘seni’.

Orang-orang seni itu hanya butuh modal tak terlalu susah. Yaitu, beri apresiasi berupa semangat yang membara. Dari situ akan banyak renungan dan ide-ide fantastik muncul untuk diukirnya. Orang seni tidak butuh nilai ‘direndahkan’. Entah, seni ber-photography ria, seni menulis, seni olah raga yang bisa saja akan menjadi instruktur yoga terkemuka, seni tari yang mungkin akan menjadi instruktur berbagai jenis tarian dari luar negeri, seni olah vokal yang bisa menjadi pencipta lagu, composer, guru musik termasyur dengan bayaran puluhan juta, seni lukis yang walau corat-coret tak jelas namun jadi bernilai ratusan juta lantaran keartistikannya atau seni menjahit ecek-ecek pada mulanya justru menjadi desain terkemuka sebuah butik di mana model pakaiannya tak ada yang bisa mengembarinya bahkan, seni-seni yang lain dari sebuah perkembangan. Sungguh, luar biasa jika orang-orang seni sudah terlanjur meledak mengeluarkan seluruh talentanya. Jangan menyepelekan hal yang demikian.

Kenapa saya membahas seperti ini? Karena ini pun juga demi orang-orang seni. Orang yang hatinya tidak mengerti dengan sebuah seni serta semrawutnya otak bercampur perasaan untuk melahirkan suatu karya pasti akan dengan enteng kasih harga murah. Dan berjuang menawar harga yang serendah-rendahnya untuk pekerja seni. Masih, masih banyak yang seperti ini, masih ada. Saya pribadi pun masih menganggap (misal) para penulis itu honor atas karyanya masih rendah. Ini penilaian saya, lho, ya! Kalau ada yang sudah merasa cukup, itu berarti sudah bagus. Mungkin, saudara salah satu yang beruntung dari sekian ribu penulis lainnya serta namanya sudah melambung tertidur pulas di awan. Kembali lagi bahwa, itu rezeki.

Menulis itu butuh sesuatu bahasa yang menghidupkan. Menyeret orang dalam area cerita, mampu membuat seorang pembaca memposisikan diri andai mereka adalah pemilik kisah itu, dan sebagainya. Yang terpenting lagi, tenaga, waktu, otak yang harus kaya kosa kata, majas, dan sejenisnya.

Yang terakhir ingin saya bahas, dari seorang kawan lainnya. Tanpa sengaja, banyak tulisan-tulisan yang saya temui di meja kerjanya. Lembaran itu saya pikir untuk dikirim ke redaksi, penerbit atau apalah. Ternyata, beliau hanya membikin layaknya sebuah kliping dan dijilid rapi beserta cover nan menarik.

“Sayang sekali, tulisanmu mendayu-dayu, berkelok-kelok, punya intonasi apik. Kenapa tak kau terbitkan saja?” tanya saya.

“Walau aku pandai menulis, tak harus aku mempublikasikannya, bukan? Karena ini area pribadiku. Jadi, sebaik mungkin aku harus indah menuliskannya. Kelak jika, istri atau anak-anakku membaca mereka akan mampu meneteskan air matanya. Bagiku, itu cukup.” Jawaban yang membuat saya berusaha memahami untuk mengiyakan saja.

Ah, masih ada lagi. Kawan dari Jakarta pecinta vespa butut. Karyawan perusahaan swasta. Namun, kau akan terkejut dengan hasil jepretannya di setiap sudut ibu kota. Dan hanya dikumpulkannya dalam folder dengan rapi sesuai usia.

“Kenapa tak kau muat di sosial media? Di sana banyak tukang foto profesional.” Seloroh saya.

“Ah, ini hanya untuk koleksi pribadi. Kakekku dulunya memang pecinta photography. Di tahun Pak Karno masih berjaya.” Jawabnya seraya mengotak-atik DSLR-nya.

Semahirnya orang seni, tetaplah mereka semua mempunyai kapasitas dan kepentingan yang berbeda-beda pula. Tidak semua juga dikomersilkan. Tidak semua pula asyik meriah dipublikasikan hanya untuk menunjukkan sebuah faktor kelebihan. Karena kembali lagi bahwa, seni itu pusatnya nomer satu adalah hati. Menjiwai adalah utama, berpikir untuk menuangkan itu selanjutnya. Dan rencana untuk diputar jadi duit itu kreativitas masing-masing.

Berarti kesimpulannya sebagai contoh, saya pun tidak menjadi masalah jika hanya mengumpulkan koleksi foto-foto indah kehidupan pribadi saya, bukan? Saya juga pecinta photography. Terkadang, bukan orang tak mau berbagi momen. Tapi, perlu dipahami bahwa ada hal-hal tertentu yang ingin seseorang nikmati sendiri berbareng secangkir teh kental akan sebuah memori. Sama juga jika, kita punya sebuah diary. Saya sangat yakin, tak semua hal di sana diperbolehkan untuk diketahui khalayak ramai terlepas dari bahagia tak bahagia dalam kisah kecuali, bagi yang sudah tak bisa membedakan mana aib bukan aib, anggun tak anggun, pantas tak pantas, sopan tak sopan atau berlebihan. Orang sedih itu lumrahnya hidup, mencurahkan sedih pun kodratnya manusia namun, bersedihlah yang sopan dan tidak menjatuhkan harga diri.

Dan sekali lagi, harga sebuah seni itu mahal sekali. Sangat mahal. Jika, kita menawar ya tawarlah dengan sangat pantas, jika memang kita tak niat untuk memiliki karena tak mampu menebus mahalnya ya tak perlu sekalian membelinya. Namun, jika terlalu cinta karena hati ya ambilah tanpa tawaran yang bisa menjatuhkan penciptanya apalagi kita punya materi untuk menebusnya.

Selamat berkarya dalam kapasitas dan kepentingan masing-masing! Dan selamat menikmati area yang kalian percaya untuk bisa tetap berkarya.

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)