Dua Kain Beda Makna Antara Kami

Ini adalah perayaan hari besar bagi umat kristiani di seluruh jagad. Setahun terakhir sudah aku tak menyaksikan senyuman ‘Jane’! Ya, Martha Jane Kristen. Aku memanggilnya Jane, dia lebih suka dipanggil dengan nama kecilnya seperti itu.

 

Lima tahun lalu…

Bibir seksi orange, pipi bersemu merah, kulit bulai menarik kupandang dibalik topangan raga yang tak pernah aku ketahui lekukannya karena terbalut dengan kain anggun. Entah, apa nama baju itu! Baju yang melekat khas para biarawati.

“Suster…maaf! Baikkah?” Aku gugup. Untuk pertama kalinya kusentuh langsung tangan-tangan yang sejak kecil sangat aku takuti bila menyaksikan dari busana yang dikenakannya itu.

‘Suster’, bahkan aku tak pernah tahu kenapa biarawati selalu dipanggil ‘sus’! Sejak kecil orang tuaku selalu membiasakan panggilan itu untuk para perawat di sebuah rumah sakit milik nasrani jikalau aku sakit. Karena hanya itulah rumah sakit paling dekat dengan rumah kami. Mereka sangat santun, ramah dan penyayang dalam pelayanan. Senyuman yang tak pernah hilang pada muka mereka yang membuat aku semakin penasaran. Paling tidak itu yang dapat aku ingat saat usiaku 7 tahun. Dan rasa penasaran itu terputus begitu saja oleh waktu yang egois menyibukkanku dengan segala kepentingan hidupku. Selebihnya, aku belajar kehidupan dengan Tuhanku sendiri. Ya, kami beda persepsi atas Tuhan kami masing-masing dalam keyakinan kami. Perbedaan yang tetap aku jaga di atas segala toleransiku yang pernah menjadi murid PPKn sejak zaman Sekolah Dasar dulu tanpa membuatnya menjadi masalah terpendam dalam hati. PPKn juga butuh praktek dalam kehidupan yang kadang teramat sulit kita lakukan. Di mana teori selalu mendapatkan nilai tak kurang dari angka 9 di raport.

Kata biarawati selalu menjadi tanyaku sejak kecil, siapa mereka, bagaimana mereka, kenapa mereka, bagai angan-angan polos tak bertuan. Biarawati, bukankah seorang wanita yang hidup di dalam asrama, menyerahkan diri sepenuhnya hanya untuk hal religious, atau seorang pertapa yang menghabiskan waktu hidupnya di biara. Seperti itulah di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaku. Makna sempit berbatas dalam lembaran kertas. Itu hanya istilah saja yang tak cukup puas untukku bisa mengenalnya. Panggilan ‘Suster’ sangat melekat pada mereka. Ibarat arti, saudara perempuan. Seperti sister, itu menurutku.

“Sus, kita ke rumah sakit saja, ya?” Tanganku sesekali memegang sebagian tubuhnya karena ketakutanku dengan keadaan suster yang tanpa sengaja terserempet oleh kendaraanku. Atas kesalahan siapa, pasti aku tak mau disalahkan dalam kejadian itu. Karena aku yakin suster itu sedang panik. Sepertinya ada suatu kejadian yang darurat dengannya.

“Saya enggak apa-apa. Sudah, enggak usah ke rumah sakit…” Jawabnya dengan senyuman seraya mengambil bungkusan beberapa obat-obatan yang tercecer di trotoar rusak. Dirapikannya kembali ke dalam plastik putih bertuliskan nama sebuah apotik di seberang jalan.

“Kalau begitu biar obatnya saya belikan lagi, sus. Takutnya ada yang rusak…” Aku membantunya dengan cekatan.

“Sudah, enggak perlu. Enggak apa-apa…” Jawab kali kedua dengan senyuman kembali. “Namaku ‘Martha Jane’, panggil saja ‘Jane’!” Suster itu mengulurkan tangannya yang lembut untuk berjabat tangan denganku. “Dan kau?” Lanjutnya.

“Oh…Vita!” Aku membalasnya dengan jabat erat pula.

“Vita, terima kasih. Mudah-mudahan Tuhan Yesus memberikan arti dalam pertemuan kita. Aku berteduh di bawah atap rumah Tuhan. Di sudut sana!” Telunjuknya menunjuk ke sebuah arah. Di mana gereja yang selama ini aku lewati saat aku bersantap ria dengan jajanan di kala malam. “Aku sedang menolong seorang anak, dia demam tinggi sejak semalam. Tak tahu siapa keluarganya. Aku buru-buru tadi. Maaf, membuatmu jadi seperti ini…” Kisahnya padaku sambil membenahi sedikit kecil pada bagian pakaiannya yang tak rapi.

“Aku senang bisa berkenalan dengan suster.”

“Jane! Panggil Jane saja…” Tegasnya dengan mata melotot indah kebiruan dan senyuman cerah karena bibir cantiknya.

Seperti dejavu. Entahlah! Apa itu namanya. Awal perkenalan yang memecahkan segala penasaranku beberapa puluh tahun yang lalu.

“Vita! Apa kau terlihat aneh melihatku?” Teriaknya dengan senyuman berjarak 5 meter. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan tersenyum seraya melambaikan tanganku tanda ‘tidak’. “Jane juga tak pernah aneh melihat Vita! Jane ingin bersahabat dengan Vita. Vita yang sangat berbeda dengan Jane!” Ungkapan terakhir Jane kepadaku sebelum punggung itu meliuk centil menyapaku dengan good bye-nya.

Mulai saat itulah, aku menjalin persahabatan dengan seorang biarawati cantik yang sangat berprinsip dalam memegang kaul-kaulnya. Tak jarang pula kami bertemu di sebuah taman pinggir kota yang tak jauh dari sekitaran gereja tempatnya mengabdikan diri untuk Tuhannya. Mungkin orang sangat aneh melihatnya, penuh tanya dan tak habis pikir kenapa dia memilih jalan untuk menjadi seorang biarawati. Yang tak semua orang sanggup melakukannya. Di sana kami banyak menghabiskan waktu yang berbatas dengan sukacita dalam balutan kisah. Jane, keturunan Jerman dari keluarga yang broken. Ibunya over dosis dan Ayahnya yang bunuh diri tanpa sebab yang jelas. Terjadi saat usianya 12 tahun. Aku tak pernah bermimpi dan membayangkan akan bergenggaman tangan dengan seorang biarawati. Namun, kisah hidup tak pernah bisa aku menduganya. Banyak hal yang kami diskusikan tentang kasih sayang, orang tua, anak-anak dan masa depan bangsa kami. Di luar bab keyakinan kami masing-masing. Dan banyak orang di sekitar kami yang memandang kami ini orang aneh! Kami duduk rapat berdampingan dengan segala canda tawa di bawah kain yang berbeda makna pembawaan kami yang selalu menutupi kepala ini, yang selalu menyembunyikan tiap helai rambut kami.

Sampai tiba masanya, semua pertemuan berakhir saat aku memutuskan untuk menikah. Hati kami sama-sama berat untuk tak menangis. Kali itulah aku baru pertama melihat Jane meneteskan air matanya. Padahal, tak pernah dia sesedih itu pula saat menceritakan kejadian masa lalu tentang keluarganya.

“Kebahagiaanmu dan surgamu adalah saat kau menikah, berbakti pada lelakimu dan kelak melahirkan anak-anaknya. Sedangkan kebahagiaan dan surgaku adalah saat aku melepaskan segala nafsu duniawiku dan membaktikan seutuhnya diriku hanya pada Tuhanku serta mampu melayani orang yang membutuhkanku…” Jane memelukku erat dan hangat aku rasakan. Menyembunyikan setiap tetes air mata yang ditahannya untuk tak jatuh. “Pergilah, kejarlah surgamu. Seperti aku yang pergi dan mengejar surgaku…” Genggaman erat jemarinya di lenganku yang membuatku semakin yakin dengan sebuah pernghargaan atas bedanya kami.

“Jane, aku akan berkirim surat kepadamu…”

“Dan aku pasti akan membalasnya…” Sambungnya.

Hal yang teraneh terjadi kali kedua, sehari sebelum akad nikahku dia menyempatkan datang ke rumah. Dan saat itulah banyak orang terngangnga dengan mulut terbuka kecil karena rasa heran. Jane yang tertutup rapat dalam berbusana di balik khas biarawatinya. Tak pernah berhenti dengan senyuman cantiknya ke setiap orang di sana yang tak pernah dia kenal. Ibuku langsung mempersilakan dia masuk ke kamarku tanpa banyak bertanya pada Jane. Hanya dengan bertatap, sendu tercipta di antara kami saat Jane ada di depanku setelah melewati pintu penuh dengan riasan indah. Aku tak menyangka Jane memberanikan diri datang di keramaian seperti itu.

“Sudah, jangan menangis! Aku nekat curi waktu untuk bisa datang ke sini. Aku tak punya banyak waktu. Kalau sampai Ibu Kepala tahu bisa-bisa aku kena omelan yang sangat memanaskan telingaku selama seminggu…hahahaa…” Seraya mencubit pipiku dengan tawa kecil. “Hanya Ibumu yang tak aneh memandangku…” Keluhnya.

“Aku sudah menceritakan semuanya sama Ibuku. Jadi, kau tak usah khawatir, Jane!”

“Kejarlah apa yang bisa membuatmu ke surga…” Bisiknya dengan pandangan tajam kepadaku.

“Dan kau, Jane…tetaplah jadi pelayan bagi Tuhanmu serta sejuta umat Tuhan tanpa memandang siapa mereka yang membutuhkan…” Aku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Rasa hangat air mata yang menetes di punggung tanganku dari Jane pun masih bisa aku rasakan hingga saat ini.

Itu adalah pertemuan kami yang terakhir sebelum aku melangsungkan akad nikah di esok hari. Sebuah kado dengan kertas polos berwarna putih dari Jane. Mungkin sangat tak menarik untuk dipandang. Tak punya sisi ukir seni yang mampu membuat penasaran di hati. Namun, itu adalah pemberian Jane yang tak pernah boleh aku membukanya sampai di saat dia tak menghubungiku lagi. Tak pernah kutahu apa maksud Jane dengan pesannya, ‘dia tak menghubungiku lagi’.

Persahabatan kami tetap berjalan hingga memasuki awal tahun keempat. Surat-menyurat masih tetap membuat jantung kami merasa berdegub kencang jika POS membunyikan klaksonnya di depan pagar tempat kami bersinggah di masing-masing tempat. Dia selalu mengirimiku surat terbungkus amplop merah dan aku mengirimkan surat padanya dengan amplop berwarna biru. Itu sudah menjadi kesepakatan kami berdua di awal waktu sebelum perpisahan itu. Tak lain dengan maksud agar kami saling mudah mengenali pengirim surat walau dari penglihatan di kejauhan.

Mulai menginjak pertengahan tahun keempat hingga di akhir tahun keempat, sama sekali tak pernah kudengar lagi cerita-cerita dari Jane. Bagaimana aku bisa tahu kabar dan keadaannya jika kisah yang dia paparkan dalam surat seperti biasanya tak lagi mengunjungiku. Terakhir, dia menyampaikan kepadaku bahwa aku harus tetap semangat dalam menjalani kehidupanku dan rasa terima kasihnya atas sambutanku untuknya yang aku bawa dalam kehidupanku.

Menginjak pertengahan tahun kelima, aku kebetulan berkunjung di kota saat pertama kali bertemu dengan Jane. Sebagian keluargaku masih banyak yang tinggal di sana. Hatiku kembali berdegub kencang saat melewati gereja di mana Jane menyinggahkan hidupnya beberapa tahun di sana. Gereja ujung jalan raya besar yang tak sulit untuk aku cari. Pasti dia akan tampak bahagia jika melihat anakku yang sering aku ceritakan dalam suratku. Dia berharap bisa bertemu dengan kami sekeluarga.

“Biar aku yang menanyakan sama orang yang ada di depan gereja itu. Kamu tunggulah di sini…” Ucap suamiku.

Sangat lama sekali aku menunggu suamiku yang sedang mencari informasi tentang Jane. Hingga aku tak sabar dengan waktu yang lebih dari 15 menit terlewati. Aku pun turun menghampiri dua orang di ujung jalan yang sudah lama sekali mengobrol. Entahlah, siapa yang ditemui suamiku di sana.

“Mas, sudah?”

Tampaknya suamiku begitu terkejut dengan keberadaanku yang sudah ada di belakang tengkuknya.

“Hai, sayang….begini…itu…ehmm…” Tampak seperti orang kikuk yang sangat sulit berbicara.

“Kenapa, mas?”

“Ehmmm…anu, sayang…Jane sudah kembali ke Jerman.” Jawabnya.

“Oh, iya. Kenapa aku tak tahu dari surat dia?”

Tak lama kemudian, keluarlah Ibu kepala biarawati membawa kotak berukuran besar berwarna cokelat.

“Anda ‘Vita’?” Dengan logat santun tapi kaku terucap tanya ramah padaku.

“Iya, sus. Suster Jane…”

“Suster Jane sudah kembali ke Jerman…” Potongnya akan tanyaku yang belum sempat selesai kala itu. “Suster Jane, sudah tenang di surga…” Tutup penuturannya padaku dengan singkat. “Surat terakhir yang mungkin anda terima adalah tulisan terakhir yang dia buat untuk anda. Dia menceritakan banyak kisah tentang anda pada saudaranya yang lain di dalam sana…” Sambil tertunduk santun berbicara kepadaku. Begitulah ciri khas para biarawati, yang sedikit menundukkan wajahnya setiap kali di depan umum.

“Suster Jane tak pernah bercerita kepada saya tentang hal ini…” Ungkapku.

“Suster Jane sudah lama mengidap Leukemia. Karena itu dia mengabdikan diri di sini…” Jelas Suster Kepala itu kepadaku.

“Di dalam kotak itu adalah pesan beliau untuk anda. Nenek buyutnya yang membawanya kembali ke Jerman.”

Bias pertemuanku dengan Jane seperti puzzle yang terpecah-pecah kala itu. Yang berusaha aku kumpulkan kembali setiap kali melewati taman di mana kami sering melepas tawa tak sopan karena kegirangan hati kami akan kebebasan. Senyuman dan kehangatan Jane sebagai sahabat adalah sebagian jiwaku tanpa pernah kami memandang agama kami masing-masing. Di mana, di luar sana kami sering mendapatkan cacian dari kedua belah pihak yang pro akan kami masing-masing. Mengharamkan persahabatan kami, melaknat kami dengan neraka, bahkan kadang sedikit menjauhi kami karena kami dianggap orang yang aneh.

Kotak cokelat itu tak kubuka hingga aku kembali ke kota di mana aku bersinggah dengan suamiku. Buku harian, dan kertas-kertas tak jelas berantakan penuh tulisan dia di sana. Hasil laboratorium kesehatan dan apapun yang berkaitan dengan Jane yang tak aku indahkan sementara itu. Dengan sigap aku teringat kado yang segera ingin kubuka. Kado dari Jane beberapa tahun lalu saat pernikahanku.
Mungkin, tak perlu aku banyak kisah panjang lagi. Karena aku sangat terkejut dengan isi kotak berselimut kertas putih itu. Sepasang baju ihram untukku dan suamiku. Kado yang unik bagiku dari seorang biarawati.

“Vita, Islam itu agama yang sangat indah bagiku. Bersyukurlah kau ada di dalamnya. Indah seperti Al-Qur’an yang kau lantunkan sebagai pengganti lagu yang menyesatkan di zaman ini. Setiap agama, bagiku punya sisi keindahan tersendiri bagi penganutnya. Seperti kau yang selalu menghargai aku. Aku ingat, kau pernah bercerita tentang impianmu padaku. Aku tak pernah tahu bagaimana hukum-hukum dalam agamamu. Yang aku mengerti bahwa, haji adalah suatu kelas yang istimewa yang diinginkan setiap orang Islam. Mudah-mudahan dengan senang hati kau mau menerimanya. Pandanglah pemberianku, janganlah kau memandang agamaku. Sehingga, membuat kau tak menyukainya hanya karena dari tangan orang nasrani yang memberikan hadiah ini untukmu.”

Tuhan itu hanya ada di hati kita masing-masing. Cukup di sana kita mengukirnya dengan indah tanpa banyak mengucapkan suara melengking keras. Tuhanku, Tuhan anda, tuhan kamu, Tuhan kalian, Tuhan kau adalah kalian sendiri yang tahu dalam hati. Biarlah saja, Tuhan kita beda pun. Beda karena namanya ’Tersebut’ yang memang beda walau kita tahu Dia Esa. Yang penting kasih sayang kita pada Tuhan itu terwujud akan cinta kasih dengan sesama. Semua agama mempunyai sisi positif dengan ajaran yang baik. Hal yang baik itulah kita ambil tanpa membawa agamanya.

Puaskan saja kau mencaciku dengan Jane, puaskan saja kau mengharamkan persahabatan kami hanya karena Jane seorang biarawati dan aku seorang muslim, puaskan saja kau yang layaknya seorang hakim menentukan surga atau neraka bagiku. Karena aku tak pernah mempermasalahkannya akan sebuah dosa atau tak dosa. Karena setiap hari para Malaikat dan Tuhan selalu berdiskusi dalam meja ghaib Mereka atas apa-apa yang setiap hari aku lakukan pula. Mereka yang lebih berhak saja menamparku jikalau aku berdosa atas keharaman yang aku lakukan menurut Mereka hanya karena kisahku dan Jane.

Dan ini adalah akhir tahun kelima, di mana aku tak akan lagi mendengar kisah-kisah Jane dalam kehidupanku. Hidup adalah pembelajaran. Termasuk aku dan Jane yang menjalin persahabatan dengan meletakkan segala keegoisan akan fanatiknya keyakinan kami masing-masing yang berbeda. Di saat berkumpul dan berbagi bersama, kami menyimpan keegoisan itu sementara waktu untuk menciptakan kehangatan tulus tanpa embel-embel agama.

*Terima kasih untuk sahabat kasihku, Pravitasari, Solo.

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)