Jawaban Saya untuk Sebuah Karya

Kali ini, saya sengaja meluangkan waktu mengumpulkan segala tanya-tanya yang mendatangi tentang bagaimana saya menuliskan kisah. Dari sekian email yang saya terima maka, akan saya utarakan sedikit keberbagian dalam sebuah kepenulisan. Saya menyukai di area non-fiksi. Pun, tak mengurangi kebanggaan saya terhadap para penulis lain yang bermain di area fiksi dengan kemampuan dan tingkat kualitas berbeda-beda pula. Ada beberapa hal penting yang sampai sekarang idealis saya pertahankan.

Yang pertama, setiap melangkah di perputaran hidup serba tak terduga, selalu saya niatkan dengan hal baik dan harapan yang baik. Yang mampu mencambuk dan mendidik diri saya agar senantiasa bersyukur bahwa, seolah-olah saya merasa menjadi seseorang yang paling beruntung dalam kehidupan ini. Setidaknya, itu cara saya menyemangati diri sendiri. Doa saya, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan sesamaku yang bisa memberiku pelajaran hidup sehingga, juga bermanfaat bagi orang lain sebagai peringatan. Karena sebaik-baik perantara ilmu adalah makhluk ciptaan-Mu sendiri supaya kami tidak bodoh dalam bersyukur. Aamiin.”

Yang kedua, saya selalu mengutamakan etika dalam merangkai kisah seseorang. Apapun itu, sebuah kisah kehidupan adalah hak masing-masing manusia sebagai lakonnya. Dan tidak semua manusia mendapatkan peran yang baik-baik dan istimewa di dunia ini. Itu yang selalu saya tekankan dalam diri saya. Tidak semua hal-hal baik yang terkadang harus kita unjukkan. Karena Tuhan selalu memberikan ujian dalam setiap kehidupan baik atau pun buruk di sisi yang tipis untuk diambil hikmahnya. Jadi, berkomunikasi dengan segala dukungan dan kasih sayang tulus adalah kunci untuk mengalirkan suatu rasa agar kawan saya nyaman dan percaya di awal waktu. Ingat, tidak semua orang mempunyai kemampuan menceritakan peristiwanya sendiri dengan baik dalam berbagai alasan. Bisa karena menyakitkan, takut, malu, bisa juga karena dia bukan para cakap yang fasih.

Yang ketiga, kelemahan saya adalah tak pernah bisa menuliskan sesuatu walau satu kalimat sebelum bertatap dengan kawan yang bersangkutan. Karena pembacaan karakter, cara seorang kawan bercerita, gerakan bibir, gerakan mata, kerutan dahi, kesedihan, keseriusan, kemarahan, senyumannya, mata yang berkaca-kaca atau ekspresi apapun adalah kunci khusus bagi saya dalam penjiwaan. Sehingga, saya akan mampu membayangkan kala kejadian dan bagaimana kondisi psikis sang pencerita di saat itu. Dua sampai empat kali bertatap, mungkin waktu yang cukup bagi saya untuk menautkan batin sekadar masuk dalam area kisah seorang kawan.

Yang keempat, meski tak selalu. Namun, lebih seringnya saya akan menempelkan waktu. Kapan, di mana, bagaimana cuaca, suasana atau lingkungan, orang ketiga seperti apa, dan lain sebagainya. Karena saya harus kuat membayangkan situasi yang sebenarnya saat kejadian tersebut secara fisiklis. Urutan kejadian dan kapan waktunya pun kunci utama saya untuk selanjutnya dalam pembentukan plot. Ini sumber warna kuat dalam kisah. Tak jarang pula saya meminta si pencerita untuk memberikan gambaran seperti apa ciri seseorang, bendanya, bentuk sesuatu apapun, semampu yang diingat. Karena saya pun ingin mengajak para pembaca ikut membayangkan dengan gamblang tak hanya membaca dan kemudian selesai begitu saja. Bahkan, terkadang saya sering memandang foto si pemilik kisah untuk menguatkan rasa.

Yang kelima, ini catatan penting selanjutnya. Menulis atau mengambil kisah seseorang itu jangan berlaku egois. Ibarat memperkosa orang lain untuk kepentingan nama kita supaya cepat berkibar tinggi. Biarlah semua mengalir apa adanya. Agar kita tak membuat-buat sikap hanya lantaran menginginkan kisahnya sebagai sebuah bahan yang bisa dibilang setengah riset. Begitu pun agar beliau yang bercerita ini lebih natural dan tak terasa jika kita tertarik dengan kisahnya untuk lebih lanjut. Rampungkan langkah awal ini dulu minimal. Segala sesuatu yang natural dan mengalir akan lebih membawa penjiwaan sepenuhnya bagi kedua belah pihak. Berarti kesimpulannya, dibutuhkan kesabaran karena waktu benar-benar berpengaruh, telaten dengan beliau yang berkisah, cerdas dalam menggabungkan cerita yang kadang-kadang meloncat-loncat ke sana kemari. Anggap saja kita bermain puzzle. Sekarang bisa kita membayangkan sendiri, terkadang butuh waktu tahunan untuk menciptakan satu masterpiece. “Sebuah karya bukanlah mutlak target tapi, ketulusan hati penulisnya mengikuti sampai di ujung mana kisah ini pantas diberi penghormatan dengan akhir yang baik. Itulah keadilan.”

Yang keenam, ada sebuah pertanyaan kepada saya, “Mbak, bagaimana jika seseorang itu sangat jauh dari kita? Untuk bertemu dengannya saja kita tak pernah tahu kapan. Tetapkah Mbak tidak bersedia menulisnya?” Ini pertanyaan yang sangat menarik bagi saya. Bukan saya tidak bersedia untuk menulisnya. Saya tetap tertarik untuk menulisnya, terlebih biasanya beliau sudah banyak berkisah lewat mail dan komunikasi sejenisnya. Itu akan saya simpan baik-baik sebagai ‘sebagian kecil saja’ bahan. Namun, alangkah lebih kuat saya menginginkan sebuah pertemuan (walau dalam hal ini kita berusaha, selanjutnya Wallahu’alam). Karena itulah, berkali-kali saya tekankan bahwa, “Sebuah kisah seistimewa apapun adalah tak lain ibarat rezeki yang berpihak atau tak berpihak pada kita. Pertemuan, perpisahan, Tuhan sudah mengaturnya sebegitu baik untuk kita. Kalau memang kisah itu baik dan bermanfaat bagi orang lain, insyaallah akan ada cara dari Tuhan untuk mempertemukan.” Ide memang bisa dicari tapi, tak bisa terlalu dikejar. Dan saat dia mendatangi, harus segera ditangkap. Dan cara menangkap ide pastinya akan berbeda-beda setiap orang.

Yang ketujuh, ke mana pun saya melangkah, akan selalu ada buku dan bolpoin. Informasi apapun yang sudah saya dapatkan, ide apapun, hutang penulisan apapun akan selalu saya catat secara manual di sana sewaktu-waktu dan kapan pun. Dan tinggal menunggu kondisi dan saat yang tepat untuk saya mengukirkan hal tersebut untuk menjadi sangat indah. “Mbak, apakah menulis itu harus malam hari? Lantas, kapan waktu terbaik untuk menulis itu?” Jawaban tersebut sangat beragam bagi saya. Setiap orang punya tingkat kelonggaran dan kenyamanan masing-masing untuk fokus dengan sesuatu. Karena saya sendiri pun tidak membatasi disiplin waktu harus malam hari, senyap, sepi, siang jam sekian atau sekian, malam waktu sekian sampai batas waktu sekian. Kapan pun terbesit kalimat yang saya anggap pas untuk saya rangkai, saya segera mencatat manual jika, sedang jauh dari PC atau laptop. Kalau pun sedang dekat, saya bisa langsung bergerak. Tergantung kondisi saja. Menulis butuh kesegaran otak dan selera yang sangat baik. Jadi, tak masalah jikalau misal hanya dalam waktu 10 menit sampai 15 menit atau hanya 30 menit saja di depan PC atau laptop sekadar menambahkan beberapa kata atau hanya satu kalimat. Keunikan menulis adalah menikmati prosesnya setiap menit, jam, hari. Selebihnya, sesuai kebutuhan masing-masing. “Menulis bukan ambisi namun, pengendalian emosi (nafsu).”

Saya kira, tujuh poin di atas yang paling mendasar dari keberbagian saya dalam hal menulis. Jika, ada selingan yang lain itu hanya sebagai variatif saja agar kita tak bosan dengan situasi atau gaya berkarya kita. Bisa dari penataan ruang kerja, dan sekawanannya. Pembahasan tentang target, saya yakin setiap penulis mempunyai batasan waktu masing-masing tanpa perlu meramaikannya pada publik. Dan hanya diri sendiri yang mampu memacu dengan cara yang baik.

Karyamu adalah pencerminan gaya tulis dan penguatan karakter sebagai ciri khasmu. Menulis tak pernah bisa mencontoh seperti seseorang yang kita idolakan. Jadi, jika kita benar-benar mencintai tulisan maka yang perlu terus digali: Bagaimana sebetulnya keunikan kita dalam tiap-tiap kalimat untuk menjadi bait demi bait. Karena karya per orang akan mempunyai lagu yang berbeda-beda.”

Selamat berkarya tulis!

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)