Kebenaran Tak Selalu Tampak

Tentang seorang Bapak tua yang aku temui di sebuah gubuk tak bersawah. Sebuah lahan dengan angin pesisir pantai kering selalu membuat kerongkongan ini senantiasa kasar tak berair. Tuanya bukan karena usianya yang uzur. Namun, tua karena pikiran yang sudah menua dipaksa untuk mampu seperti itu. Dia yang sudah bosan mengartikan apa itu cinta, dia yang sudah bosan mengajarkan bagaimana sejatinya manusia agar mendapatkan surga, dia yang sudah lelah meyakinkan tentang akhir bahwa, manusia adalah kematian. Dia yang berkoar begitu bodohnya manusia menganggap kehidupan ini adalah sebuah awal segalanya.

Berkali-kali mata yang harus terpejam menahan semilir angin yang mulai tak bersahabat, melayangkan pasir-pasir putih, rajanya dari segala pasir bumi. Bapak tua yang sedang sibuk memisahkan bagian-bagian mesokarp buah berlapis tebal dari pohon sepanjang 40 meter itu, Cocos nucifera. Aku sangat asyik mengamati lincahnya jari-jemari yang ‘kapalan’ seraya menanti uluran satu buah saja untukku.

“Habiskan! Selagi masih segar.” Harapanku berujung, telapak tangan kasar Si Bapak menyuguhkannya padaku walau tanpa senyuman. Akhirnya, bagian endosperma itu berhasil aku nikmati. Kau pun akan merasakan lebih dari nikmatnya nata de coco di pasaran sana. Bapak yang sarat peluh darah itu hanya secara diam membagikan ilmunya. Sekelumit kata serasa jadi pekerjaan rumah bagiku agar aku mencari maknanya. Mencari di kamus-kamus filsafat Jawa sekali pun. Dan jika, aku tak berhasil menemukannya maka, hatiku selalu ingin menang melebihi pikiranku untuk menerjemahkannya sendiri. Aku pikir itu lebih adil untuk kehidupanku. Meraup keuntungan agar aku selamat dalam menapaki hidup.

Tegukan terakhir dari air kaya enzim beserta daging-dagingnya itu seperti masih kurang puas aku jamah dalam lambungku. Datang beberapa orang kemudian yang siap mengambil sabut-sabut yang sudah menggunung seperti sampah di pojok gubuk berukuran tak lebih dari 3 x 5 meter. Untuk diangkut ke juragan pembuat keset dan anyaman tali tampar di desa sebelah. Si Ibu mungil dengan telaten melayani permintaan orang kampung yang membutuhkan ‘manggar’, tandan bunga yang masih muda. Seperti biasalah, sebagai simbol-simbol tertentu dalam upacara adat perkawinan. Begitu yang sering aku temui. Upah, upah yang tak sebegitu mewah bagi Ibu yang masih menyediakan manggarnya untuk dijual. Bapak ini begitu aku kagumi karena tak pernah menari dalam kepulan asap rokok. Tidak pada umumnya orang candu tembakau di pesisir pantai.

“Mau sepiring ini?” Tanya Si Ibu mungil seraya mengangkat sebuah piring berisi kupang dan sate kerang. “Ah, sudahlah, Bu. Sisa rasa kemarin saja masih menempel di lidahku. Hampir setiap ke sini suguhan itu selalu aku terima gratis darimu.” Jawabku sedikit dengan muka masam karena terlalu lama aku menunggu Bapak yang tak kunjung dengan luang. Sekarang bergilir asyik melihat Si Ibu yang berusaha mencuci bersih si filumĀ Mollusca, kelas Bivalvia itu. Demi menyambung hidupnya. Hingga, Bapak tanpa tanda sudah berada di sebelahku dengan sabit kesayangannya.

“Mungkin, jika kau tak lapar dan tak haus, kau tidak akan berkunjung ke gubuk ini. Dan mungkin, bila kau tak kangen kami, kau tak akan ingat pada kami. Karena terkadang orang hanya akan ingat pesta dalam keberkabungan saja, dan sebagiannya lagi hanya berpura-pura mengenang si jenazah.” Seraya menyeka peluh yang mengalir di lehernya dengan handuk yang tak karuan warnanya. Dan aku termenung memikirkannya.

Dahaga, yang akan mengantar kita ke sumber-sumber mata air. Termasuk sumur yang tak tampak karena rata bersama daratan. Kelaparan, yang pastinya akan menuntun kita ke sebuah pesta perjamuan besar meski tak diundang. Sedangkan rindu; kerinduan hanya akan mengantar kita pada anak manusia yang memiliki mata air ekstase dan sama-sama memahami kehadiran kita. Hingga, rindu sejati pada Tuhan. Seperti apa kesempurnaan hidup menurutmu, kawan? Jika, bukan di akhir perjalanan terlepas dari kehidupan. Kita ini punya jiwa layaknya buah yang ‘masak’ teramat ranum. Hingga, nanti akan terjatuh dengan sendirinya dari sebuah pohon. Karena hembusan angin dengan kekuatan Tuhan atas takdirnya pada kita sejak kita belum lahir. Apakah itu jika, bukan ibarat sebuah kematian, kawan.

Kematian hanya akan membuat manusia yang masih hidup ini menjadi sebuah gemetar, karena belum mau juga dengan kesadaran diri merengkuh agama ke dalam jiwa. Duduklah di tengah ladang yang luas. Tinggal kau pilih saja, ingin yang subur dengan panennya mengundang burung karena harum hijaunya atau gersang, yang hanya bisa kau gunakan untuk bermain bersama ternak-ternakmu yang kelaparan. Seperti itulah ibarat insan menjaga agama. Agama laksana sebuah padang ilalang kepunyaan kita. Dibutuhkan iman yang kuat untuk membuat tanaman di sana subur. Kesuburan hanya akan diperoleh dari si acuh yang gemetar karena gentar dengan jilatan api neraka. Atau padang ilalang yang dipelihara oleh orang-orang kaya bersama emas-emasnya di sana hanya untuk mengemis mencari balasan dunia. Ataukah masih kau perhatikan antara tangan kanan-kirimu, kawan? Kanan yang selalu memberi dan kiri yang selalu menerima. Di antara keduanya ada sebuah jarak yang sangat jauh. Hanya dengan saling mendekatkan keduanya, kita akan mampu melalui semua hal tanpa batas. Namun, dengan menyadari bahwa, sesungguhnya sebagai manusia tak satu pun yang bisa kita beri dan tak satu pun yang bisa kita terima, saat itulah kita telah berada jauh terlepas melewati dari semesta.

Ada banyak hal dari manusia yang menangis karena ingin sebuah gelak tawa. Karena itu adalah simbol duniawi untuk sebuah kebahagiaan. Lantas, apakah kita masih saja memercayai ada begitu banyak kelembutan di tengah keramaian dunia? Kelembutan yang sebenarnya hanya akan ada dalam sebuah sunyi. Dan kesunyian itu ada di jemari Tuhan yang mampu memberikan duka cita untuk semua hamba-Nya. Dia yang berkuasa merenggut suka cita dari hati kita dan menggantinya dengan nestapa. Begitu munafik orang yang terkadang menginginkan kesunyian. Dan begitu terburu pula manusia yang menghakimi Tuhan karena ditakdirkan sebatang kara. Padahal, di balik nestapa terkadang Tuhan kelak akan memberikan keagungan spiritual duniawi untuk bekal kehidupan selanjutnya.

Mengejar cinta pada Tuhan, mencari jalan ke surga dan bagaimana menumbuhkan keyakinan dalam beragama. Tiga hal dasar yang bila kita memecahkannya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi maka, di sana kita akan menemukan bagaimana seharusnya kita menghamba. Akan mendapatkan kesengsaraan bagi orang-orang bebal dan keras kepala dengan nafsunya yang mengunggulkan cinta pada kekasih demi sebuah senggama duniawi. Karena Tuhan akan memberikan sayatan hidup bagi orang-orang seperti ini yang selalu memberikan posisi kedua bagi Sang Hyang Widhi. Suburkan terus ladang-ladang duniawi kita dengan jalan dan cara-cara yang antun. Lebih memasukkan agama bukan hanya sebagai status diri, melainkan jiwa ini yang akan kembali pada Khalik. Kematian bukanlah hal ‘takut berani’ yang harus kita sambut dengan kesedihan. Karena meninggalkan itu sudah pasti. Tiba masanya layaknya buah yang telah masak, dan jatuh tadi. Kita akan menemui telanjang diri yang tersapu angin dan luluh dari sang surya untuk kembali ke bawah bumi. Hingga, hanya kita sendiri yang nanti akan berusaha menerangi tetirah terakhir.

Napas yang berhenti adalah kebebasan. Bebas dari pasang surutnya ombak. Pasang akan selalu dinanti banyak orang untuk terus bermain dengan badai, surutnya adalah akhir kegelisahan hidup di dunia. Di sana kita bebas mengembang lepas menuju Khalik. Yang patut direnungkan, seberapa besar pencapaian yang kita raih di dunia, semua itu tidak akan membuat kita lebih tinggi dari apa pun. Namun, Tuhan pun tidak akan mungkin menjatuhkan para manusia lebih hina dari kehinaan karena kegagalan yang kita buat dalam kesalahan menjalani dunia. Tuhan ada di semua jalan kita, Dia akan mengikuti langkah baik dan buruk. Tapi, hanya jiwa yang lurus sesuai jalan-Nya yang mencapai apa itu kebenaran.

Mungkin, itulah yang sedang diinginkan Bapak tua agar aku belajar pergi jauh ke dalam kehidupan yang belum nyata sekali pun. Bapak yang selalu tanpa panik mengatasi likunya hidup. “Tidak ada duniawi lebih penting dari akhirat, dan tidak ada akhirat mutlak lebih penting dari duniawi. Lantas, mau berjalan melalui jalan mana engkau jika, duniawi yang menjadi jembatannya saja tak kau bangun dengan seindah mungkin?” Penuturan yang berlanjut. Dan aku menatapnya sekian kali seraya menahan hembusan angin yang berteriak menyuruhku segera kembali pulang.

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)