Puitis, filosofis dan ilmiah (Gibran, Henri Bergson, Martin Heidegger)

Alasan saya mengulas kembali tulisan ini, untuk lebih mendalami kerangka berpikir tentang sebuah sastra. Jika, saya bertanya, “Buku apa yang pertama kali kau baca dengan serius dan kau cermati dengan saksama?” Setiap orang pasti mempunyai jawaban yang berbeda dan alasan-alasan kuat ‘mengapa’. Termasuk saya yang berusaha mendalami ketiga filsuf barat ternama tersebut.

Ketiga filsuf antara Gibran, Henri Bergson dan Heidegger sepertinya layak untuk lebih didalami bagi kita yang sangat antusias dengan sebuah makna filsafat. Saya berpikir bahwa, filsafat Indonesia masih tergolong sangatlah sederhana bila dibandingkan dengan filsafat barat. Gibran selalu berupaya keras, berusaha untuk mempresentasikan suatu tindakan manusia agar menghadirkan sebuah keputusan mengenai moralitas tindakan. Keputusan mengenai moralitas ini sebuah hal yang universal dalam penerapannya. Meski, ceritanya harus terkonsentrasi pada tindakan seseorang yang hidup dalam sebuah setting situasi tertentu. Pernah Gibran memberikan permisalan, dia mengajak kita untuk menerima keputusan universal bahwa, perkawinan dikontrak melalui kekuatan tradisi yang mendorong kepada hancurnya cinta yang murni. Dalam permisalan di atas, yang harus kita ingat bahwa, Gibran tidak ‘memoralkan’ puisi untuk memasukkan moralitas dalam seni. Namun, di sana sebagai seorang penyair, dia melihat dengan penuh keimanan tindakan manusia untuk menilai beberapa tindakan sebagai hal yang buruk. Bagi Gibran, hanya pemikir di bidang hukum yang berhak menentukan atau menilai perilaku moralitas seseorang. Dan mengantisipasi moralitas perilaku yang buruk. Ini artinya, etika penyair adalah benar. Seperti apa yang dikatakan Gibran, “Saya akan mengikuti jalan di mana pun selama nasib dan misi kebenaranku tersalurkan.”

Dari situlah, sehingga saya berpikiran bahwa, kebenaran seorang penyair bukanlah terletak pada sebuah opini atau pun pencarian yang terus-menerus akan kebenaran yang dicari itu sendiri. Bila kita kembali kepada teologi. Di mana Teologi puisi adalah sebuah ‘penggambaran’ makna realitas secara fenomenologis yaitu, sebuah cara realitas untuk memanifestasikan diri. “Puisi bukanlah opini yang diekspresikan. Puisi adalah nyanyian yang muncul dari luka yang berdarah atau bibir yang tersenyum.”

Lantas, kebenaran yang disampaikan melalui puisi apakah merupakan silogisme logis? Bisa diartikan, apakah puisi harus direduksi mengikuti tata aturan logika? Yang jelas, puisi adalah bagian dari karya sebuah ‘pikiran dan perasaan kita yang spontan’. Tidak ada prioritas bagi puisi melalui sebuah pemikiran yang abstrak. Sesuai yang pernah Gibran tuliskan, “Puisi api di dalam hati, namun retorika adalah serpihan salju. Bagaimana mungkin api dan salju saling bertukar?” Bab yang harus kita pahami tentang kerangka pikiran karya puisi.

Penyair ibarat mempunyai dua kepribadian yang berbeda. Dia bisa menjelma menjadi seorang intelektual yang diperoleh dari kepribadiannya (intelegensi) dan intelektual karena memperoleh inspirasi sebelum hal permasalahan kemanusiaan itu sendiri dijalani. Apa yang bisa dijadikan perumpamaan dengan kedua kepribadian yang berbeda tersebut? Antara intelegensi dan inspirasi?

Perbedaan secara tajam antara ‘pemikiran abstrak’ dan ‘inspirasi’. Terkadang, kita saja secara pribadi tanpa menyadari bahwa pemikiran yang abstrak sering gagal dalam mengungkapkan ‘Gestalt’, realitas. Giliran saya menarik Henri Bergson. Dalam beberapa tulisannya, dia pun mengakui adanya perbedaan antara dua proses pemikiran yang mengatakan, “di sini dan kini” berada di luar bidang abstraksi. Namun, terletak di dalam jajaran intuisi yang merupakan pola dialog simpatetik dengan realitas secara personal. Bagi Henri Bergson, bagaimana pun abstraksi, secara etimologis mau pun operasional, tetap merupakan ungkapan terhadap realitas, ia merupakan fokus pikiran mengenai satu aspek dan menghilangkan aspek terkait lainnya yang menyusun kesatuan eksistensi konkret. Sementara disiplin abstrak. Henri mengambil contoh, sains. Sains berproses dengan memotong keseluruhan dalam bagian-bagiannya. Sebagaimana air yang terdiri dari hydrogen dan oksigen. “Puisi merupakan pemahaman terhadap keseluruhan.”

Kerangka pemikiran yang digunakan untuk puisi adalah inspirasi. Dan inspirasi itu sendiri merupakan jenis pengetahuan yang berbeda dari cara kerja ‘akal’. Karena inspirasi itu sendiri merupakan pemikiran yang bersumber dari ‘hati’.

Bagi Gibran, sebagaimana Pascal. Hati memiliki cara refleksi terhadap dunia yang cukup berbeda dari cara refleksi akal. Sebagaimana Pascal pernah menuliskan, “Hati memiliki akalnya yang tidak diketahui oleh akal itu sendiri.” Salah satu cara untuk membedakan antara berpikir puitis, la logique du coeur, dan pemikiran ilmiah-abstrak, la logique de la raison, terletak pada yang terakhir. Bahwa, yang terakhir menjadikan ‘penjelasan’ dan ‘pembuktian’ untuk mengungkapkan kebenaran kepada audiensnya. Namun, kebenaran inspirasi terletak di luar pembuktian. Ketika Gibran menuliskan, “Ilham akan senantiasa berdendang; ia tidak akan pernah menjelaskan.” Dia ingat pernyataannya sendiri yang menegaskan bahwa, “Kebenaran yang memerlukan bukti adalah kebenaran yang masih separuh diri.”

Dari pernyataan Gibran di atas, ada kesimpulan yang bisa kita ambil bahwa, analisis dan debat akan menjauhkan seseorang dari kebenaran. Dan tentunya tiap orang bisa menarik kesimpulan yang berbeda-beda. Saatnya saya menarik Heidegger yang dalam kata-katanya, pemikiran puitis dan filosofis melebihi pemikiran ilmiah karena yang pertama bisa mewakili seluruh makna dalam eksistensi individu. “Puisi memiliki ruang dunia yang sangat luas guna mengungkapkan bahwa masing-masing benda – pohon, gunung, rumah, tangis burung – memiliki keunikan yang sangat khas.” Dengan kata-katanya ini, Heidegger yang secara insidental memiliki filsafat sastra yang bersesuaian dengan filsafat Gibran. Di mana dia membedakan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan filosofis atau puitis. Hal ini didasarkan bahwa, hanya puisi dan filsafat yang menunjuk realitas secara menyeluruh, sementara pengetahuan empiris melalui metodenya, bertujuan untuk menemukan keuniversalan, keabadian dan sesuatu yang tidak bisa diubah. Sebagaimana kita ketahui, bahwa setiap ilmu-ilmu empiris yang mendekati realitas dan satu angle dan setelah mengulangi percobaan-percobaan menegaskan hukum-hukum pembuktian untuk diaplikasikan tanpa syarat kepada anggota kelompok mana pun.

Kita tarik kesimpulan dalam opini Gibran dan Heidegger. Bahwa, sikap seperti itu membuat realitas individual kehilangan sifat-sifat uniknya. Sehingga, memisahkannya dari kelompok yang lain. Dan jauh dari membuka ‘makna’ realitas. Di mana sains justru melenyapkannya. Sebagai contoh paling sederhana adalah ‘senyuman’. Dalam terminologi sains, senyuman itu menandakan kontraksi otot rahang. Namun, bagi orang yang sarat dengan pemikiran filosofis dan puitis, makna senyuman itu lebih dari sekedar aktivitas psikologis. Kita sajalah, melihat orang tersenyum adalah ekspresi bisa karena ‘kesenangan’, ‘kebahagiaan’ atau mungkin ‘ironi’ juga bisa. Tergantung dan terserah kita yang memaknainya pada siapa orang yang kita tuju.

Kita ambil garis besar secara singkatnya bahwa, inspirasi dalam puisi adalah sesuatu yang ilahiah dan pada esensinya adalah suatu hal yang alamiah. Sebab, dia dapat diperoleh setiap orang yang menjalani kehidupan dengan kebenaran, keindahan dan cinta. Kadang untuk mengungkapkan sebuah kebenaran akan perasaan butuh kekuatan eksotisme dan aura mistis yang ada pada khazanah sastra. Dan kita ketahui bahwa, ada bagian negara dengan tingkatan sastra yang paling kaya akan ekspresinya dan variasinya sehingga, tetap relevan dalam kehidupan sepanjang zaman. Setiap dari kita tentunya mempunyai pandangan masing-masing tentang hal itu. Di dalam kehidupan kita mulai kita terlahir, kawin dan mati. Ada tema pokok dalam kita mengarungi ketiga fase tersebut yang paling universal. Yaitu, pokok Ketuhanan, kemanusiaan, seni dan keindahan, sosial masyarakat dan etika hukum yang selalu mengiringi setiap kita melangkah. Di dalam setiap pokok-pokok tersebut akan selalu memiliki makna dan fungsi-fungsi lain untuk menyebarluaskan kearifan. Sering orang-orang yang jauh sebelum kita terkadang berungkap, agar kearifan-kearifan di masa lalu tidak mudah terbuai dengan gaya hidup-gaya hidup modern masa kini yang selalu membuat kita tergoda karena menariknya hal-hal baru. Dan hal baru tersebut belum tentu bisa dibuktikan secara relevan dan hakiki. Mudah-mudahan, kita mampu menempatkan sebagaimana fungsinya di antara puitis, filsafat dan ilmiah tanpa menghilangkan nilai-nilainya.

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)