Saya Meninggalkan Facebook, Twitter, dan G+

Bisa dibilang saya orang angkatan lama. Dulu masih Friendster yang merajai saya. Saya tidak meninggalkan Friendster, dengan berjalannya waktu justru Friendster yang meninggalkan saya. Kemudian, ada media sosial yang lainnya sebagai pengganti. Mulai dari Facebook saya yang berumur lebih kurang
sepuluh tahunan, Twitter yang berumur tujuh tahunan, dan G+ yang hanya sebentar saya menggunakannya. Saya berusaha bertahan di tiga dunia tersebut, tapi tidak membuat saya bahagia dan nyaman walau di sana banyak hal-hal yang baru. Di sana tidak ada manfaat yang saya cari, akhirnya saya yang harus meninggalkan. Ada beberapa alasan bagi saya untuk menutup akun-akun media sosial tersebut.

Pertama, saya takut semakin banyak dosa yang saya buat karena obrolan saya, penilaian saya kepada seseorang, sikap saya yang tidak berkenan akan sesuatu, dan lain sejenisnya akan ketidaksengajaan saya dan kebodohan saya dalam menanggapi sesuatu. Banyaknya pujian-pujian yang tidak tepat mendatangi saya dan kemungkinan rasa iri dan dengki seseorang kepada saya adalah salah saya, salah saya, salah saya, dan yang keempat adalah salah saya. Begitu pun saya sendiri berusaha menghindari dari kedua sifat hina tersebut dengan ilmu yang saya punya jikalau ada posting yang siapa tahu berhasil menggetarkan hati dan akal saya, sampai-sampai membuat saya jadi tidak ikhlas dan tidak rida dengan ketetapan Allah azza wajalla dalam kehidupan saya hanya karena godaan orang lain. Naudzubillah.

Kedua, saya lebih menghargai intimasi dan bukan bagian-bagian peristiwa yang bersifat massal (publik).

Ketiga, sememangnya saya tidak menyukai dunia maya. Saya lebih senang dengan dunia nyata. Kawan-kawan nyata yang setulusnya memang ada untuk memberi saya dukungan. Bukan hanya sebatas (like, komentar, atau bahkan bisa berujung caci makian).

Keempat, saya sangat menghargai, menghormati, dan bijaksana pada area privasi saya sendiri demi menjaga perasaan banyak orang-orang yang saya cintai. Media sosial, sesungguhnya sangat tajam. Di sana banyak berkumpul berbagai macam batok kepala. Ada yang asal bicara tanpa berpikir, ada berbagai macam pemahaman, ada berbagai macam perasaan, ada berbagai macam prasangka, ada berbagai macam latar belakang pendidikan, pengetahuan dan latar belakang yang lain, yang kadang-kadang kurang bisa mengerti posisi orang lain.

Kelima, saya benar-benar ingin menikmati hobi saya yang Allah azza wajalla anugerahkan sebagai kelebihan saya. Saya mencintai buku-buku bacaan saya, saya mencintai dunia kesastraan, saya mencintai pendidikan, saya mencintai anak-anak muda yang bersemangat, saya mencintai orang-orang yang gagal dalam sesuatu hal karena dari sana saya mendapatkan banyak ilmu dari mereka, dan saya pun mencintai orang-orang tua karena pengalamannya untuk bisa saya tuliskan.

Keenam, saya punya kebahagiaan sejati. Saya tidak butuh berbagi di media sosial. Kebahagiaan sejati bukan sesuatu bentuk yang harus utuh. Namun, kebahagiaan sejati adalah suatu bentuk apa pun yang diberikan Allah azza wajalla atas takdirnya kepada kita dan kita mampu mengubah bentuk yang ada itu menjadi lebih indah dirasakan tanpa perlu pengakuan dari orang lain.

Ketujuh, saya akan selalu butuh waktu khusus untuk lebih banyak merenung guna memperbaiki diri saya tanpa terusik media sosial yang harus saya cek satu per satu demi memenuhi beberapa permintaan kawan dan kolega.

Saya memutuskan meninggalkan semua bukan berarti tidak bisa berbijaksana dalam menggunakan media sosial. Namun, memang saya lebih mencintai kehidupan pribadi saya yang senyatanya dalam lingkup tertentu sebagai pilihan hidup. Kala saya bahagia, ada kawan yang benar-benar nyata ikut berbahagia. Kala saya bersedih, ada kawan yang benar-benar berempati serta mencurahkan nasihatnya dengan segenap hati. Pengamatan saya sejauh ini di dunia maya milik kawan-kawan saya, saat mereka bahagia belum tentu semua kawan ikut berbahagia. Di dunia maya, saat mereka sedih belum tentu senasib dan serasa yang kawan mereka tampilkan. Namun, ada beberapa yang justru membuatnya sebagai bahan pembicaraan di awal hari.

Ada kawan maya yang melekat hangat seolah sangat dekat. Mungkin, ini patut dipertahankan. Ada kawan maya yang timbul tenggelam dan banyak tenggelamnya. Ada kawan maya yang datang dan pergi sesukanya, ada pula kawan maya yang saat membutuhkan baru muncul. Maya memang beragam dan unik. Tinggal penikmatnya saja mau memutuskan seperti apa.

Rumah saya hanya ada di sini, di web pribadi saya dan di Tumblr. Di sana ada kontak email yang bisa dihubungi. Saya tidak mempunyai akun lagi selain itu karena saya hanya akan fokus pada dunia kepenulisan saja.

Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah mengikuti saya selama bertahun-tahun. Dan yang bertahan dari maya ke intimasi, semoga Tuhan melimpahkan rahmat dan keberkatan yang sempurna untuk kita semua. Kita dianugerahkan hati yang lebih lembut, lebih ikhlas dan rida, lebih menyadari bahwa keriput akan selalu bertambah, segala sesuatu yang kita miliki akan menua bersama dan hanya ilmu dan nasihat saja yang sampai kapan pun akan awet bermanfaat.

Saya memohon maaf yang setulus-tulusnya apabila ada hal-hal menyakitkan yang pernah saya lakukan dengan sengaja atau pun tanpa sengaja di dunia maya. Saya hanya manusia biasa dan saya pun masih takut dengan Allah azza wajalla.

Salam hanga

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)