Sejauh Mana Mengenal Tuhan?

Tiba suatu masanya, pastilah ada seseorang dari sebuah generasi yang jenius masih saja berkata bahwa, Tuhan tidaklah adil dengannya. Saat aku bertanya padanya, apa yang membuat dia merasa tidak diperlakukan adil oleh Tuhan? Dia tidak menjawabnya, hanya berlalu seraya melirik sinis pada kau yang dianggap kala itu lebih unggul sudah menandingi kehidupannya. Mungkin, sekarang giliran kau dan esok bergilir padaku. Kelakuan itu akan terus merambat dalam otaknya bagai kutu jika, dia masih saja selalu meremehkan Tuhannya.

Manusia. Saat Tuhan memberikan sebuah euforia kita akan senantiasa memuji-muji-Nya. Sampai-sampai mampu melukakan jidat ini yang katanya sebagai pertanda rasa syukur rela tanpa sajadah itu. Dan saat setan biadab yang jatuh giliran dengan euforianya karena dia berhasil membuat kita memujinya, kita justru rela menggadaikan sebuah jati diri ini yang sewaktu-waktu bisa dijadikan tumbal. Ah, kenapa pertanda kiamat justru membuat manusia rela menjadi pahlawan sebagai budak setianya setan-setan?

Begitu lancang mulut sebagian manusia yang enteng sekali main dakwa pada Tuhan kalau, Dia itu tidak adil. Sebagian kita yang menganggap tak adil hanyalah sedang keracunan nutrisi otak sesaat. Sehingga, akal ini rusak karenanya. Inti tak adil bagi manusia hanya karena sebagian apa yang menjadi impian kita justru, dilimpahkan pada orang lain yang tak pernah memimpikan apa pun. Masih belum mau mengakui? Tak adil hanya karena kita yang merasa selalu dibelit musibah, sedangkan orang lain mengangkat ketiaknya karena menikmati dansa kemenangannya tanpa impian.

Di saat kita bisa tidur nyenyak, berarti Tuhan sudah sangat adil bagi kita. Namun, kala kita tak bisa menikmati bantal mahal, berarti Tuhan sedang tidak adil pada kita. Mungkin, begitu, ya? Sering terdengar tanpa sengaja dari kebanyakan orang jenius. Bahwa, Tuhan bisa jahat. Tuhan penuh kejahatan. Hanya orang bebal yang lebih menyayangi Tuhan. Tampaknya seperti itu.

Tuhan itu tak pernah melakukan kejahatan. Di mana akal ini ditempatkan jika, selalu ingin tinggal enaknya saja? Akal yang ditancapkan di batok kepala adalah senjata Tuhan untuk membimbing manusia dalam menghadapi jebakan-jebakan atau perangkap yang isinya penuh kesalahan dan kehancuran. Dia, membimbing kita lewat sebuah akal. Dari yang berakal maka, akan mampu mendapatkan poin. Yaitu, sebuah pelajaran hidup. Pelajaran hidup itu dari Tuhan melewati sesama dan alam. Tulisan ini mungkin lebih cocok dibaca oleh anak TK. Ah, tapi jangankan TK! Yang tua saja terkadang lupa akan arti ‘akal-bimbingan-pelajaran’. Apa yang ingin kita perebutkan dari sebuah bumi? Hampa! Bumi lebih berhak mengambil apa-apa yang mereka miliki. Karena bumi mempunyai akhir kehidupan. Lantas, kenapa manusia harus saling berebut sebagian wilayah bumi yang konon katanya demi kelanggengan anak cucunya? Tak akan pernah ada! Karena manusia tidak pernah memiliki akhir dari kehidupan. Hak manusia bukan di dunia.

Kita adalah atom-atom yang bebas terjatuh di setiap jengkal gravitasi dengan banyak kelemahan. Jumlah kita tak terbatas. Dan semuanya hanya bisa berpasrah dan berbakti penuh kepada kehendak Tuhan, kala doa kita sudah terbendung sebuah ketetapan dan usaha kita tak berlaku lagi. Pengertian tentang bagaimana Tuhan pastilah berbeda setiap manusia. Terkadang, satu kepercayaan saja bisa dibedakan oleh yang diyakini dari masing-masing. Sekarang, berusahalah memahami bahwa, tak seorang pun mampu memaksakan sebuah keyakinan atas apa pun meski kita sejalan bersama. Tuhan hadir berbeda-beda dalam setiap diri manusia.

Bagaimana kita mengetahui kehidupan kita? Si sinis pernah mempertanyakan hal itu padaku. Apa yang pantas aku jawab untuk pertanyaan tajam seperti itu, yang tak lain, “Bagiku, kehidupan yang sesungguhnya ya ada dalam diriku sendiri. Dan hidupmu ya ada dalam dirimu sendiri. Lantas, kenapa masih sempat-sempatnya menolehkan pandangan dengan memasuki kehidupan orang lain untuk mencari kehidupan kita?” Jika, memang itulah sejatinya hidup, lantas apa bedanya kita hidup di kota besar atau hidup di dusun yang teramat sunyi? Jelas! Tak akan ada beda. Karena kehidupan kita ada di diri kita. Bukan tergantung lingkungan alam mana yang kita pijak.

Sesungguhnya, orang-orang yang hijrah dari atmosfer satu ke atmosfer yang lain bukanlah karena mereka ingin menghilang dari dunia aslinya. Bukan untuk melarikan diri pula dari sebuah unsur hidupnya. Melainkan, ada sebagian orang-orang tertentu karena ingin menemukan bagaimana keinginan Tuhan padanya.

“Hiduplah dalam segala kehidupan. Agar kehidupan pun setiap saat dapat mengerti kita.”

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)