Seperti Apa Lelaki Mengartikan Cinta?

Meja nomer 11 di sudut sebuah depot bergaya mengelite. Walau, sebetulnya jenis makanan yang tersedia di sana terlalu sederhana. Tak lebih sedap ketimbang lauk-pauk yang dimasak si mbok di rumah. Tampaknya harus kutampung sekian kali kelopak mata nan mengandung air dari perempuan tajam pikiran tapi, memaksakan dirinya menjadi bebel. Berdalih kepingin memahami sosok lelaki yang diyakini bakal terpikat padanya. Ah, sungguh terasa penuh perut! Jika, tak terdidik pengetahuan soal pertimbangan batin bisa jadi aku menyudahi ucap, “Sorry, aku enggak bisa ketemu kamu hari ini,” sekadar supaya terlepas dari topik.

Ada sebagian besar wanita merasa kuasa menjadikan lelaki incarannya hendak menjatuhkan perasaan untuknya. Ya, bisa jadi! Ini biasanya berlaku pada wanita-wanita super percaya diri atas keunggulan yang bisa dijual (bagi yang berprinsip seperti itu). Aku berasumsi, inilah yang sedang diupayakan oleh ‘Angie’. Panggil saja Enji. Ejaan Inggrisnya mungkin semacam itulah dari sebutan nama kecilnya. Berparas adun, perawakan lampai, otak encer, bersuara seksi dan sudah mencicip jajaran manajer profesional di umur yang tak lebih dari 27 tahun itu.

“Aku sudah banyak meluangkan waktu untuk menelponnya di tengah sibuk demi menghiburnya. Aku telah sedia meluangkan waktu bareng hanya untuk menemaninya ngopi tapi…” seraya tetesan itu yang kesepuluh atau sebelas kalinya mungkin, menghujani alas meja.

“Tapi, apa? Kau hanya bisa merenung sambil bertanya-tanya kenapa dan kenapa dia kok tidak begini begitu dan kenapa seperti ini. Begitu?” sahutku menegas menahan hati.

Tak ada yang mampu terucapkan kecuali, aku harus menganggukkan kepala tanda sangat memahami sembari mencondongkan pundak ini, sedikit menunduk untuk menyatakan rasa simpati. Sememangnya aku harus merasai persis perasaan Enji.

“Pria kenapa begitu rumit?” seraya tapak tangannya menutup muka nan tak embuh jadi halwa mata penikmat menu di sana.

“Kau sungguh mencintainya, ya?” Kisik hatiku. Tak pantas aku bersoal langsung pada Enji. Sangat gamblang, reaksi apa yang bakal mengena padaku nanti. Tak inginlah tampak bodoh salah tanggap.

“Aku ingin dia jujur padaku. Kenapa, sih, susah sekali rasanya?” lanjutnya.

Menyebabkan aku mengernyitkan dahi. Entah, lantaran tercengang ataukah menganggap seseorang di depanku nan cergas itu sungguh benar telah membodohkan diri. Walau kami sesama wanita namun, ibarat peribahasa ‘rambut sama hitam, hati masing-masing’. Yaitu, kami akan senantiasa memiliki buah pemikiran dan hasrat berbeda, tak selamanya mengatasnamakan wanita dalam perihal tertentu seia sekata. Kami wanita tak mau pongah meskipun tak bergantung pada lelaki ihwal ‘kepuasan materi’. Apa hendak dikata di zaman kini jika, wanita tak punya ketangguhan untuk mencerap kecerdasan yang hendak kan disampaikan para lelaki pada kami. Kata orang yang lebih dahulu berilmu, sesungguhnya wanita lebih pintar dan cerdas dari kaum laki-laki. Tidak mustahil! Ini sebagai dasar bahwa, 80% wanita bertanggung jawab penuh dalam pendidikan. Namun, menurutku kenapa lelaki itu sering dianggap rumit? Ya, karena mereka pun mempunyai kecerdasan yang tak semua wanita dapat menangkap maksudnya. Begitu pun sebaliknya, lelaki menilai wanita suka kerepotan. Kita ini dianggap makhluk yang sukar dimengerti dan hanya selesai dikenyangkan dengan belaian. Wanita mungkin unggul dalam rasa, yang acap disebut tajam firasat. Namun, lelaki tak kalah dengan tajam siasatnya. Lantas, apalagi yang mesti dibahas dalam hal kesetaraan? Ini merupakan kesetaraan yang bersifat mendasar. Tak ada mana lebih mana kurang.

Tuhan telah jadi menciptakan aura berbeda dari seorang lelaki versus perempuan. Lelaki yang mempunyai energi positif dan negatif sedemikian berimbang, sedangkan wanita lebih cenderung di satu sisi energi saja. Ingatkah, bahwa wanita itu dari tulang rusuk lelaki? Ingatkah, istilah bahwa lelaki adalah pemimpin; imam keluarga? Ingatkah, wanita lebih acap disebut labil tipis ketandasan? Semua bukan sebab lelaki atau perempuan harus silih mengalahkan kepintaran dan kecerdasan. Bukan! Tapi, memang Tuhan sudah menakdirkan sedemikian rupa agar kita yang berakal ini lebih lapang lagi menjelajah arti memahami dan memahamkan.

“Sekarang aku harus bagaimana lagi? Mungkin, aku kurang mengerti perasaannya…” ujar Enji, sembari meneguk jus tomat mencium pinggir gelas.

“Jangan memaksakan lagi. Terkadang, cinta itu butuh dijauhi sejenak sekadar untuk tahu apakah dia akan berbalik pada kita atau tidak. Walaupun, hasil di akhir tak selalu menyenangkan,” jawabku seraya memegang bahu baju.

“Sama artinya kamu suruh aku berhenti berusaha?” mulai tegar tengkuk kancap bebal, “ini beda zaman. Aku kira wanita punya hak yang sama untuk memperjuangkan cinta bagi lelaki pujaan hatinya, ‘kan?” lanjutnya, “apalagi kalau kita punya keyakinan bernilai plus di mata mereka. Laki itu suka sama cewek smart!” Menjabarkan tanggapan nan tak menyamankan, lebih-lebih meresapi hingga ke benak. Dan rasa-rasanya makin kepingin menelan saliva sebanyak mungkin.

“Allahu Akbar…sungguh, serba salah menghadapi seseorang yang sedang menganggap lelakinya terlampau sempurna.” Berbatin.

Lelaki itu personalitas yang ‘tak semudah bersiul’ untuk dapat berterus terang di mula waktu. Ibarat berat bibir pada lawan gender yang berusaha menarik hatinya. Ada daya upaya tertentu untuk menciptakan kenyamanan lebih dahulu agar terungkap seluruh warita dari pikiran dan perasaannya. Bagi yang ingin mengenal lelaki secara telaten akan setara dengan statistik, integral, trigonometri. Namun, bagi yang menginginkan instan akan setara dengan membaca sebuah novel sesudah itu mengambil bagian pokoknya saja di akhir kisah, tak memerlukan pemikiran keras. Dan jika, mulai hilang harapan bisa jadi meminta cenayang guna menaklukkan lelaki, itu sebagian dari wanita picik!

Sebagian dari kawan wanita yang merasai suatu peristiwa serupa dengan ini, mesti akan dibikin buncah. Pejantan itu bak enigma berbalut stereotip. Wanita pada umumnya memprotes cara lelaki mengambil sikap. Mereka mampu bereuforia, lebih ekspresif pada pelayan Starbuck ketimbang ke wanita yang sedang mengincarnya.

Semua pokok masalah terdapat pada bagaimana cara mengomunikasikan, istilah khususnya menguasai strategi komunikasi. Lelaki mengingini wanita untuk mengetahui benar yang dibutuhkannya, pun kebalikannya wanita berkeinginan supaya lelaki mengetahui benar bagaimana memandang penting yang kerap dianggap remeh. Dari beda jenis ini mempunyai kode rahasia masing-masing yang seharusnya dipecahkan. Niscaya, melewati penyelaman jiwa psikis secara mendalam. Dan kita sudah mengetahui hal tersebut tak mungkin instan, kawan! Berarti proses menyelami ini bisa kita lakukan sambilan rebah-rebahan, jalan-jalan, bersosial di tempat kerja atau sembari menuntut ilmu. Ibarat seperti itu curaiannya. Kerapnya pertemuan tak menjamin kita akan mampu menggenggam seutuhnya semua perwatakan. Sepertikan penurunan rumus, kadang-kadang kala jalan pikiran mesti mandek sesaat. Lebih lagi mengetemui jalan buntu. Sudah tentu kita bakal menilik referensi berulang lagi selaku solusinya, bukan?

Lelaki itu tinggi harga diri, pada umumnya. Ini berhubungan dengan prestise. Kalau pun tersingkap sedikit demi sedikit sampai lubuk jiwanya, mereka senantiasa berkeinginan di atas segala-galanya dari wanita (pasangannya). Kepuasan cindur hatinya itu nomer satu agar kegagahan kentara. Jadi, bagi wanita cerdik cendekia dengan ilmu berselam air, semua-muanya nan inheren pada lelaki akan dirasai sedemikian menyenangkan. Namun, jika jatuh singkat pikiran pada wanita nan kelihaian berenangnya hanya di permukaan kolam saja, untuk mengerti benar akan lelaki itu serupa halnya melewati petak ranjau. Yang tidak tentu waktunya, kapan saja bisa meledakkan hatinya berkeping-keping dan, “Aku lelah menghadapimu! Aku tak mengerti jalan pikiranmu.” Oke, kemudian selesai! Bukankah begitu, kawan?

Keyakinan terbesar saya, pastinya orang banyak berargumentasi mengenai dua beda jenis ini. Lelaki versus wanita. Semua pihak mempunyai hak melahirkan pendapat buah pikiran terhadap keduanya. Siapapun yang sedang bergelora kepingin menjadi pelengkap bagi lawan jenisnya barang tentu mencita-citakan seperti apa nanti cintanya, seperti apa nanti ikatan hubungan yang hendak dibina dalam lingkaran cintanya. Baik lelaki maupun wanita akan senantiasa menyusun impian indah di bagian kisah ini. ‘Hanya’, kita wajib menyadari bahwa masing-masing selalu punya cara yang berbeda baik sikap dan lisan kala memunculkan diri, terutama lelaki. Tugas pokok wanita melepaskan pelan-pelan tali simpulnya supaya mereka mau leluasa berbagi tentang apa saja yang mereka rasakan.

“Makanlah dulu hidanganmu! Otakmu harus diisi nutrisi biar bisa adem berpikir,” barangkali, semacam sindiran untuk Enji. Persis apa kata orang, cinta bikin tak selera makan. Entah, ini untuk keseluruhan ataukah sekumpulan kecil saja.

“Bagaimana aku bisa makan lahap? Pendekatan apalagi yang harus aku lakukan saat ini?” seraya tak niat memasukkan sendok makan berisi butiran nasi ke mulutnya, “aku merasa dia sedikit pun tak tertarik padaku. Seperti itu dugaanku,” pungkasnya.

Jujur saja, setiap orang menginginkan kesempurnaan berdasar sudut pandang dan porsinya masing-masing. Yaitu cinta sejati, kelak mempunyai kehidupan seks dalam asmaragama yang baik dan perasaan cinta dalam kurun waktu lama. Siapa yang tak suka seperti itu? Saya pikir semua sama. Namun, ada sebagian lelaki yang merasa dilematis sekali menemukan kebahagiaan pada wanitanya. Kendati, tak selamanya sang wanita harus dicacat lantaran terkadang lelaki yang buruk sekali dalam merangkai komunikasi dengan pasangannya. Atau memang lelaki telah mengirimkan banyak duaja akan tetapi, wanita tak mampu menangkap maksudnya. Sikap-sikap seperti itu seolah-olah jadi khas gender lelaki. Dan siapa wanita yang mampu memahami makna emotifnya maka, dialah yang bisa menyatu dengan lelaki itu. Masih ada!

Pernah saya menuturkan, waktu kita yang banyak ini tak hanya dibuang untuk perihal cinta memikirkan pasangan. Bisa dibilang ada masa berjeda. Lantas, jika kita tak fokus dengan saat tertentu untuk melakukan ‘setiap’ kegiatan bersama pasangan berarti akan ada celah kegagalan dalam berhubungan, begitu? Bukan! Tidak juga seperti itu. Oke, mungkin dari pihak wanita lebih cenderung melankolis merengkuh cinta sebab afeksinya. Namun, apa kata lelaki tentang cinta?

Ibarat plot. Lelaki butuh bernapas sejenak keluar dari sekadar pemikiran cinta yang monoton. Interaksi sosial dalam karir yang digeluti, bergabung aktivitas dengan sesamanya pun berhak mengisi ruang pikirannya. Mentak, wanita terlampau kilat menelan mentah-mentah begitu saja konsep-konsep berdasarkan subjektif semata. Sebuah kekeliruan dari wanita seumumnya identik dengan berkumpul berbareng sesamanya untuk silih mempercakapkan yang dimasalahkan tentang lelakinya. Malahan, wanita acap kali meminta urun pendapat pada sesamanya sendiri tentang apa yang dirasakan oleh lelaki. Beribarat, sama saja kita ini meminta suatu penjelasan genre musik dangdut pada penggemar genre musik R & B atau pop. Justru, hal itu hanya akan semakin menjauhkan jawaban dari sumbernya.

Kebalikan dari lelaki yang jarang sekali membahas pasangannya (wanita) di saat berkumpul berbareng sesamanya. Ada sedikit gengsi jika, mereka harus membuka permasalahan tentang wanita yang menyelimuti kehidupannya. Lantaran bagi lelaki pun, cinta menjadi tolak ukur kesuksesan hidupnya.

Mudah-mudahan, setelah ini kita bisa mengambil penilaian sendiri bahwa, cinta yang wanita artikan terkadang-kadang berbeda dengan yang lelaki artikan. Meskipun, keduanya menaruh keinginan sama. Jangan membahasakan seorang wanita itu punya ‘nilai jual tinggi’ di hadapan lelaki, bak sebuah benda. Kita wanita kodratnya memang sudah memiliki nilai tinggi, yaitu ‘lebih mulia’. Tinggal kita berupaya belajar terus-menerus agar kenyataan dari mulia itu terwujud.

The following two tabs change content below.
"Filosofis adalah pemikiran-pemikiran melebihi ilmiah. Hanya filosofis yang mampu mewakili makna dalam eksistensi manusia dan alam. Dan sastra adalah ruang terluas demi penggambaran segala realita dengan keunikan-keunikan tersendiri."

Latest posts by Arie Pudjiarso (see all)